LEGENDA WAYANG POTEHI

LEGENDA WAYANG POTEHI
Empat dari lima orang pesakitan gelisah menghitung jejentik waktu. Maut membayang dalam benak. Eksekusi mati tengah menanti mereka. Cemas dan gelisah berparade tiap sekon. Hanya seorang yang tetap tenang dan jatmika. Alih-alih meratapi nasib, ia justru mengajak kawan-kawannya untuk bergembira menghibur diri.

Dia kemudian membuat boneka dengan kain yang entah dari mana, barangkali sisa pakaiannya. Kawan-kawannya diajak untuk membuat pertunjukan sederhana. Mereka bertugas sebagai penabuh pelbagai alat yang mengiringi lakon boneka. Bebunyian piring, panci, dan perkakas lainnya yang tersedia di dalam sel dijadikan sebagai alat musik.
Pertunjukkan boneka ini ternyata tidak saja menghibur mereka, tapi juga narapidana lain dan bahkan para sipir penjara. Cerita tentang pertunjukkan kelima orang narapidana ini akhirnya sampai ke telinga kaisar," tulis Tempo dalam Wayang dan Topeng: Tradisi Menjadi Seni (2015).

Kaisar penasaran, lalu mengundang mereka untuk melakukan pertunjukkan di hadapannya. Kebijaksanaan terbit, kelima narapidana itu akhirnya diampuni dan dibebaskan.

Kisah ini beredar secara lisan di kalangan pegiat dan penikmat pertunjukkan wayang Potehi di Nusantara. Thio Tiong Gie alias Teguh Chandra Irawan, salah seorang dalang wayang Potehi yang namanya populer, menuturkan kisah yang sama kepada Dwi Woro Retno Mastuti, penulis buku Wayang Potehi Gudo: Seni Pertunjukan Peranakan Tionghoa di Indonesia (2014).

Pada perkembangannya, imbuh Tempo, pertunjukkan wayang Potehi diiringi sejumlah alat musik tradisional Tiongkok, yakni toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), piak ko (kayu), bien siauw (suling), siauw loo (gembreng kecil), tong ko (gendang), dan thua jwee (terompet).

Wayang ini tentu berasal dari Tiongkok. “Po" artinya kain, “te" berarti kantong, dan “hi" yang berarti wayang. Secara harfiah Potehi bermakna wayang yang berbentuk kantong dari kain.

“Cara memainkannya dengan memasukkan tangan ke dalam pakaian yang dikenakan wayang. Jari tengah digunakan untuk mengendalikan kepala. Sedangkan ibu jari dan kelingking untuk mengendalikan tangan wayang," tulis Tempo.

Wayang Potehi, imbuh Retno, dibawa ke Nusantara seiring migrasi warga Tiongkok ke selatan untuk mencari penghidupan yang lebih baik karena di kampung halamannya terjadi huru-hara.

“Di dalam memori heritage mereka masih kental kebudayaan leluhur dan itu terbukti sampai sekarang. Di mana pun mereka berada masih membawa tradisi leluhurnya. Kebudayaan Tiongkok kuat sekali melekat di dalam diri para diaspora tersebut, dan salah satunya adalah wayang Potehi" tuturnya kepada Tirto (4/2/2019)

Karena wayang Potehi banyak terdapat di Jawa Timur, Retno memperkirakan wayang ini mula-mula hadir di sekitar Lasem atau Tuban. Selanjutnya, ia menyebar ke pelbagai pedalaman lewat aktivitas perniagaan dan akhirnya mereka membuat sejumlah permukiman, termasuk di dalamnya rumah peribadatan seperti kelenteng dan vihara. Di sinilah, imbuhnya, wayang Potehi mula-mula digelar karena sejatinya ia adalah ritual peribadatan.

Keterangan ini salah satunya ia dapat dari Usman Arif, pakar agama Konghucu, yang berpendapat bahwa Potehi merupakan bentuk ritual dari prajurit-prajurit perang Tiongkok di masa lalu yang merefleksikan keyakinannya.

Sementara menurut seorang dalang wayang Potehi yang lain yaitu Sugiyo Waluyo Subur dalam Wayang dan Topeng: Tradisi Menjadi Seni (2015), wayang Potehi diperkirakan dimainkan pertama kali di Semarang, Jawa Tengah, pada abad ke-16.

Pendapat ini agaknya sejalan dengan Bambang Soelarto dan S. Ilmi Albiladiyah dalam Wayang Cina-Jawa di Yogyakarta (1980) yang menyebutkan bahwa Potehi berkembang di pesisir utara Jawa, khususnya di Semarang. Perkembangannya diiringi dengan pelbagai bauran kebudayaan, salah satunya yaitu dengan mempergunakan bahasa Indonesia yang diselang-seling dengan idiom-idiom Tiongkok.

Dan jika membaca laporan Koran Tempo edisi 14 Maret 2011 dalam artikel “Baco Puraga, Wayang Berdialek Hokkian", Potehi tidak hanya terdapat di Jawa, tapi juga di Sulawesi, tepatnya di Makassar.

“Wayang Cina (Potehi) yang terbuat dari kain ini di Makassar disebut Baco Puraga, disesuaikan dengan nama khas daerah, dan diambil dari nama panggilan anak lelaki," tulis Koran Tempo.


Penulis: Irfan Teguh
tirto.id - 5 Feb 2019 09:00 WIB