PUTUSNYA PEWARIS WAYANG POTEHI
PUTUSNYA PEWARIS WAYANG POTEHI
Selama lebih dari tiga dekade, budaya Tionghoa menghadapi upaya genosida. Akibatnya, paling tidak satu generasi Tionghoa mengalami kegamangan terhadap identitas budayanya sendiri. Angin segar Reformasi telah membawa budaya Tionghoa berani tampil tanpa malu-malu di muka umum. Pada tahun 2000, presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan terhadap budaya Tionghoa melalui Keppres Nomor 6 tahun 2000. Sejak itulah budaya Tionghoa termasuk wayang potehi mulai menggeliat.
Euforia kebebasan budaya Tionghoa tidak lantas menambah jumlah peminat wayang potehi secara signifikan. Kekangan selama tiga dekade lebih telah membuat wayang potehi miskin pewaris apalagi kader penerus sebagai dalang dan pemusik. Mastuti (2014:140-141) mendata, pemelihara budaya wayang potehi di Indonesia hanya sekitar 54 orang yang terdiri dari 14 orang dalang dan sisanya asisten dalang maupun pemusik. Menariknya banyak di antara mereka merupakan orang Jawa yang sebelumnya tidak memiliki ikatan terhadap tradisi Tionghoa dan wayang potehi.
Menurut Mastuti (2014:104), para sehu berdarah Jawa ini kebanyakan berasal dari kota-kota di Jawa timur, seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Tulungagung. Awalnya, mereka mengikuti dalang Tionghoa dengan menjadi pemain musik wayang potehi. Lama-kelamaan mereka dipercaya sebagai asisten dalang. selanjutnya, mereka mulai belajar mendalang dari dalang senior, terutama sehu Tionghoa. Kemahiran mereka semakin berkembang secara autodidak dari pengalaman menggantikan dalang inti yang sedang berhalangan.
Kurangnya minat generasi muda Tionghoa terhadap wayang potehi dipengaruhi erat oleh faktor ekonomis dan politik. profesi dalang wayang potehi tidak menjanjikan penghasilan yang tetap. kenyataan itu diperparah dengan faktor politis selama orde baru yang telah berhasil mematisurikan wayang potehi. padahal keberadaan sebuah karya seni sangat bergantung pada masyarakat pendukungnya. pelestarian wayang potehi terutama sangat bergantung pada pewarisnya, yakni masyarakat meliputi dalang, pemusik, perajin boneka potehi, penonton, hingga pemerhati dan maecenas.
Selama lebih dari tiga dekade, budaya Tionghoa menghadapi upaya genosida. Akibatnya, paling tidak satu generasi Tionghoa mengalami kegamangan terhadap identitas budayanya sendiri. Angin segar Reformasi telah membawa budaya Tionghoa berani tampil tanpa malu-malu di muka umum. Pada tahun 2000, presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan terhadap budaya Tionghoa melalui Keppres Nomor 6 tahun 2000. Sejak itulah budaya Tionghoa termasuk wayang potehi mulai menggeliat.
Euforia kebebasan budaya Tionghoa tidak lantas menambah jumlah peminat wayang potehi secara signifikan. Kekangan selama tiga dekade lebih telah membuat wayang potehi miskin pewaris apalagi kader penerus sebagai dalang dan pemusik. Mastuti (2014:140-141) mendata, pemelihara budaya wayang potehi di Indonesia hanya sekitar 54 orang yang terdiri dari 14 orang dalang dan sisanya asisten dalang maupun pemusik. Menariknya banyak di antara mereka merupakan orang Jawa yang sebelumnya tidak memiliki ikatan terhadap tradisi Tionghoa dan wayang potehi.
Menurut Mastuti (2014:104), para sehu berdarah Jawa ini kebanyakan berasal dari kota-kota di Jawa timur, seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Tulungagung. Awalnya, mereka mengikuti dalang Tionghoa dengan menjadi pemain musik wayang potehi. Lama-kelamaan mereka dipercaya sebagai asisten dalang. selanjutnya, mereka mulai belajar mendalang dari dalang senior, terutama sehu Tionghoa. Kemahiran mereka semakin berkembang secara autodidak dari pengalaman menggantikan dalang inti yang sedang berhalangan.
Kurangnya minat generasi muda Tionghoa terhadap wayang potehi dipengaruhi erat oleh faktor ekonomis dan politik. profesi dalang wayang potehi tidak menjanjikan penghasilan yang tetap. kenyataan itu diperparah dengan faktor politis selama orde baru yang telah berhasil mematisurikan wayang potehi. padahal keberadaan sebuah karya seni sangat bergantung pada masyarakat pendukungnya. pelestarian wayang potehi terutama sangat bergantung pada pewarisnya, yakni masyarakat meliputi dalang, pemusik, perajin boneka potehi, penonton, hingga pemerhati dan maecenas.
