PERKEMBANGAN WAYANG POTEHI
PERKEMBANGAN WAYANG POTEHI
Eksistensi wayang potehi di zaman ini terus mengalami kemunduran, kemunduran wayang potehi tersebut telah di singgung oleh Lestari (2010:10) dalam penelitiannya tentang wayang potehi. Menurutnya, generasi muda saat ini lebih tertarik pada "budaya instan". Kehadiran komik cerita silat telah tergeser pada media audio visual yang lebih menarik perhatian mereka. Kurangnya minat generasi muda berkaitan dengan hal-hal bercorak tradisional juga diungkapkan oleh Herskovits (Lestari,2010:16). Menurutnya, ketidaktertarikan generasi muda juga muncul akibat otoritas orang tua yang mengharuskan mereka untuk terlibat dalam kepentingan ekonomi sehingga tidak memiliki waktu bagi tradisi. Dengan demikian, tidak ada waktu bagi mereka untuk menjalankan tradisi yang ada. Tidak hanya itu, Maskurin (2014:172) bahkan mengatakan bahwa wayang potehi kurang diketahui oleh masyarakat meskipun telah cukup lama bertahan di Indonesia.
Terdorong dari Kegelisahan yang sama, Prawita (2013:8) juga menambahkan beberapa alasan wayang potehi hanya memiliki sedikit peminat. Pertama, banyak masyarakat yang merasa bahwa cerita wayang potehi aneh. Keanehan tersebut muncul karena muatan nilai dan kebudayaan dalam pementasan wayang potehi tidak muncul dari kebudayaan asli Indonesia sehingga tidak begitu dekat. Kedua, masyarakat tidak mengenal karakter-karakter yang ada di dalam lakon wayang potehi. Ketiga, seiring dengan mengalirnya gelombang modernitas, banyak generasi muda yang lebih tertarik menonton filem dibandingkan pementasan wayang potehi. Keempat, munculnya anggapan bahwa menonton wayang potehi hanya menghabiskan waktu saja karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan lakon pementasan wayang potehi.
Minimnya apresiasi masyarakat Tionghoa sendiri terhadap wayang potehi tidak serta Merta mengurangi niat para dalang dan pemain musik pementasan untuk tetap eksis membawakan wayang potehi. Apalagi wayang potehi telah diterima sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Meskipun demikian, tumbuh kegelisahan di dalam hati para dalang hari ini berkenaan dengan proses pelestarian. Perkara bertahan dan tetap eksis memang tidak menjadi masalah bagi mereka. Akan tetapi, dapatkah tradisi ini memiliki napas panjang di bumi Indonesia atau tidak, masih menjadi persoalan.
Eksistensi wayang potehi di zaman ini terus mengalami kemunduran, kemunduran wayang potehi tersebut telah di singgung oleh Lestari (2010:10) dalam penelitiannya tentang wayang potehi. Menurutnya, generasi muda saat ini lebih tertarik pada "budaya instan". Kehadiran komik cerita silat telah tergeser pada media audio visual yang lebih menarik perhatian mereka. Kurangnya minat generasi muda berkaitan dengan hal-hal bercorak tradisional juga diungkapkan oleh Herskovits (Lestari,2010:16). Menurutnya, ketidaktertarikan generasi muda juga muncul akibat otoritas orang tua yang mengharuskan mereka untuk terlibat dalam kepentingan ekonomi sehingga tidak memiliki waktu bagi tradisi. Dengan demikian, tidak ada waktu bagi mereka untuk menjalankan tradisi yang ada. Tidak hanya itu, Maskurin (2014:172) bahkan mengatakan bahwa wayang potehi kurang diketahui oleh masyarakat meskipun telah cukup lama bertahan di Indonesia.
Terdorong dari Kegelisahan yang sama, Prawita (2013:8) juga menambahkan beberapa alasan wayang potehi hanya memiliki sedikit peminat. Pertama, banyak masyarakat yang merasa bahwa cerita wayang potehi aneh. Keanehan tersebut muncul karena muatan nilai dan kebudayaan dalam pementasan wayang potehi tidak muncul dari kebudayaan asli Indonesia sehingga tidak begitu dekat. Kedua, masyarakat tidak mengenal karakter-karakter yang ada di dalam lakon wayang potehi. Ketiga, seiring dengan mengalirnya gelombang modernitas, banyak generasi muda yang lebih tertarik menonton filem dibandingkan pementasan wayang potehi. Keempat, munculnya anggapan bahwa menonton wayang potehi hanya menghabiskan waktu saja karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan lakon pementasan wayang potehi.
Minimnya apresiasi masyarakat Tionghoa sendiri terhadap wayang potehi tidak serta Merta mengurangi niat para dalang dan pemain musik pementasan untuk tetap eksis membawakan wayang potehi. Apalagi wayang potehi telah diterima sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Meskipun demikian, tumbuh kegelisahan di dalam hati para dalang hari ini berkenaan dengan proses pelestarian. Perkara bertahan dan tetap eksis memang tidak menjadi masalah bagi mereka. Akan tetapi, dapatkah tradisi ini memiliki napas panjang di bumi Indonesia atau tidak, masih menjadi persoalan.
