MEMBIASAKAN DIRI UNTUK TIDAK MENILA

PANNYAVARO MAHATHERA:

Kalau Anda senang suara lembut...
Anda mendengar suara keras...
Anda menjadi tidak senang...
"Tidak sopan itu... disturbing... mengganggu..."
timbul kebencian, timbul penolakan…
karena Anda senang suara lembut.

Nanti kalau Anda bermeditasi,
ada suara yang keras-keras... Anda marah...
"Tidak tahu ini lagi meditasi... suaranya kayak betet..."
Jadi waktu Anda bermeditasi, kebencian yang muncul.
"Kan sudah diberi tulisan, 'Harap tenang, ada meditasi'... Orang ini tidak bisa membaca… tidak punya aturan ..."
Timbul kebencian dalam pikiran.

Karena itu beliau mengatakan, jangan menilai...
Suara ya suara...
Omongan ya suara...
Keras atau lembut ya suara...

Kalau Anda tidak biasa menilai…
Anda tidak terpancing oleh kemarahan, kebencian, kelekatan, kesukaan...

Batuk ya batuk...
Kalau Anda mendengar saya batuk, jangan kasih nilai apa-apa...
"Batuk Pannyavaro... mengganggu... bicara bagus-bagus, serius-serius, pakai batuk-batuk..."
tidak senang...
Kalau Anda menilai, timbul kemarahan, kebencian, penolakan...
Anda tidak tenang, Anda tidak bahagia.

Batuk ya suara...
Suara keras ya suara...
Suara lembut ya suara...
Biasa saja...
Itu right view...

Karena penilaian itu berdasarkan suka tidak-suka...
kebiasaan yang Anda punyai...
dan itu sumber penderitaan.

Jadi kalau Anda duduk bermeditasi,
Anda tidak usah mengharapkan:
"Sedang meditasi... Papa-Mama sedang bermeditasi...
Anak-anak harus tahu... harus tenang... tidak boleh teriak-
teriak... jalan harus pelan-pelan... menelan air harus tidak berbunyi..."
karena kalau itu semua muncul…
Anda marah...
karena Anda ingin tenang, ingin tenteram.

Apakah Anda bermeditasi ingin cari tenang atau tenteram?
Kalau Anda bermeditasi ingin cari tenang tenteram hening tenang tenteram hening...
itu keinginan juga...
Kalau nanti Anda terganggu, Anda marah...

Ada anak menangis... ada benda jatuh... "krompyang"...
"O ya, suara..."
jangan diberi nilai...
jangan diberi label...
supaya tidak memancing keserakahan
atau kebencian...
dan Anda akan terbebas.

Kalau selama ini Anda tidak pernah berpikir begitu…
tapi hanya cari tenang...
cari tenteram ...
yah nanti akan timbul kemarahan lebih besar...
Anda terganggu sedikit, Anda marah...
Meditasi bukan tambah sabar...
tambah tenang...
tambah siap menerima keadaan...
tapi mudah marah... mudah tersinggung...
karena ketenangan ketenteraman yang
diinginkan terganggu...

Kami pernah ke Buddha Gaya...
banyak orang... lalu lalang...
di antara bhante kami ada yang bermeditasi…
ada umat yang bermeditasi...
Waktu makan pagi, ada yang mengatakan,
"Pagi ini mengapa saya tidak bisa tenang ya...
padahal di Buddha Gaya, tempat Buddha Gotama mencapai pencerahan...
ribut... orang-orang jalan, "srag-sreg-srag-sreg"...
tidak mengerti kita-kita ini bermeditasi"...
Lha, apa yang timbul?...
Kemarahan, kejengkelan...
bahkan kebencian...
"Apa mereka itu bukan umat Buddha?... Apa mereka itu tidak tahu, kita-kita lagi duduk bermeditasi?... Apalagi dia pakai sandal... diseret..."
Lha, pikirannya berputar-putar...
penuh dengan kemarahan, ketidaksenangan, kebencian...
Saya bertanya, apa Anda di Buddha Gaya bermeditasi mencari ketenangan?...
Ya, kalau Anda mencari ketenangan di Buddha Gaya, ya tidak dapat tenang…
wong di Buddha Gaya ribut melulu...
kayak pasar...

Meditasi Buddhis bukan menguber, mengejar ketenangan...
sebab kalau ketenangan Anda terganggu, Anda marah nanti...
Sadar saja...
Ada tenang, ada tenteram, suara keras, suara lemah...
ada orang teriak... ada anak menangis...
sadari saja... sadar... sadar...
jangan dinilai...
itu pengertian benar.